Contoh Bahasa Inggris

Contoh Bahasa Inggris

Menu

3 Contoh Biografi Soekarno Dalam Bahasa Inggris

July 26, 2017 | Text

Tugas sekolah mencari biografi soekarno dalam bahasa inggris bikin pusing? Tak perlu khawatir lagi teman, sebab contohbahasainggris.com sudah menyiapkan biografi soekarno dalam bahasa inggris yang bisa teman gunakan.

Biografi Soekarno Dalam Bahasa Inggris Terbaik Panjang Dan Pendek

Dalam biografi soekarno dalam bahasa inggris tentunya teman akan menemukan cerita mengenai perjalanan hidup presiden pertama Indonesia. mungkin saja biografi soekarno dalam bahasa inggris akan muncul dalam soal ujian nanti, jadi, teman harus belajar dengan sungguh-sungguh.

Langsung saja, berikut adalah biografi soekarno dalam bahasa inggris. Baca juga Biografi Bahasa Inggris Singkat Sederhana.

3 Contoh Biografi Soekarno Dalam Bahasa Inggris

1. Biografi Soekarno Dalam Bahasa Inggris Pendek

Sukarno or Soekarno (Dutch spelling), was Indonesia’s First President and one of our country’s founding fathers, and the most famous one. The son of a Javanese noble and a Balinese Brahman, he was educated in a Native Primary School and then a Dutch Primary School (Schools were segregated based on race then) and graduated from the Bandung Institute of Technology (ITB) in 1926 with a degree in Engineering, hence his title “Ir.” Insinyur, or Engineer in English.

He founded Partai Nasional Indonesia (National Party of Indonesia) with his fellow students after graduation, becoming their first leader. It was opposed to Imperialism and Capitalism and supported Secularism and National Unity against Colonizers.

Soekarno was a Magnetic and Charismatic figure, which led to his reputation of being a great orator.

In the early 1930s Soekarno, due to his activities, was arrested and was put into Internal Exile by the Colonial Administration on the Island of Flores. Eventually being moved to Bengkulu in Sumatra due to an outbreak of Cholera in 1938.

In 1945 Indonesia declaring its Independence on August 17th 1945, with Sukarno announcing the Declaration in Jakarta.

From his graduation from ITB all the way to his Death in 1970, Soekarno was a symbol of Independence and National Unity for Indonesia, even today he is still hailed as a hero and one of Indonesia’s principal founding fathers.

Artinya

Soekarno atau Soekarno (ejaan Belanda), adalah Presiden Pertama Indonesia dan salah satu pendiri negara kita, dan yang paling terkenal. Putra seorang bangsawan Jawa dan seorang Brahman Bali, dia dididik di Sekolah Dasar Pribumi dan kemudian Sekolah Dasar Belanda (Sekolah dipisahkan berdasarkan ras) dan lulus dari Institut Teknologi Bandung (ITB) pada tahun 1926 dengan gelar sarjana Di Teknik, maka gelarnya “Ir.” Insinyur, atau Insinyur dalam bahasa Inggris.

Ia mendirikan Partai Nasional Indonesia (National Party of Indonesia) bersama rekan-rekannya setelah lulus, menjadi pemimpin pertama mereka. Itu bertentangan dengan Imperialisme dan Kapitalisme dan mendukung Sekularisme dan Persatuan Nasional melawan Penjajah.

Soekarno adalah sosok Magnetik dan Karismatik, yang menyebabkan reputasinya menjadi orator hebat.

Pada awal 1930an Soekarno, karena aktivitasnya, ditangkap dan dimasukkan ke dalam Pengasingan Internal oleh Pemerintah Kolonial di Pulau Flores. Akhirnya dipindahkan ke Bengkulu di Sumatera karena wabah penyakit Kolera pada tahun 1938.

Pada tahun 1945 Indonesia mendeklarasikan Kemerdekaannya pada tanggal 17 Agustus 1945, dengan Sukarno mengumumkan Deklarasi di Jakarta.

Sejak lulus dari ITB sampai Kematiannya pada tahun 1970, Soekarno adalah simbol Kemerdekaan dan Persatuan Nasional untuk Indonesia, bahkan sampai hari ini dia masih dipuji sebagai pahlawan dan salah satu pendiri pendiri Indonesia.

2. Biografi Soekarno Dalam Bahasa Inggris Panjang

Sukarno was the first President of Indonesia, serving in office from 1945 to 1967. He was a prominent leader of Indonesia’s nationalist movement during the Dutch colonial period, and spent over a decade under Dutch detention until released by the invading Japanese forces. Upon Japanese surrender, Sukarno and Mohammad Hatta declared Indonesian independence on 17 August 1945, and Sukarno was appointed as first president.

The spelling Soekarno, based on Dutch orthography, is still frequently used, mainly because he signed his name in the old spelling. Sukarno himself insisted on a “u”, not “oe”, but said that he had been told in school to use the Dutch style. He said that it was too difficult to change his signature, so still wrote it with an “oe”.

Seokarno is the son of a Javanese primary school teacher, an aristocrat named Raden Soekemi Sosrodihardjo, and his Balinese wife named Ida Ayu Nyoman Rai. After graduating from a native primary school in 1912, he was sent to the Europeesche Lagere School (a Dutch primary school) in Mojokerto. Subsequently, in 1916, Sukarno went to a Hogere Burgerschool (a Dutch type higher level secondary school) in Surabaya, where he met Tjokroaminoto, a nationalist and founder of Sarekat Islam. In 1920, Sukarno married Tjokroaminoto’s daughter Siti Oetari. In 1921, he began to study civil engineering (with focusing on architecture) at the Technische Hoogeschool te Bandoeng (Bandoeng Institute of Technology), where he obtained an Ingenieur degree (abbreviated as “Ir.”, a Dutch type engineer’s degree) in 1926.

Sukarno’s vision for the 1945 Indonesian constitution comprised the Pancasila (five principles). Sukarno’s political philosophy was mainly a fusion of elements of Marxism, nationalism and Islam. This is reflected in a proposition of his version of Pancasila he proposed to the BPUPKI (Inspectorate of Indonesian Independence Preparation Efforts) in a speech on 1 June 1945.

In the early morning of 17 August 1945, Sukarno returned to his house at Jalan Pegangsaan Timur No. 56, where he was joined by Mohammad Hatta. Throughout the morning, impromptu leaflets printed by PETA and youth elements informed the population of the impending proclamation. Finally, at 10 am, Sukarno and Hatta stepped to the front porch, where Sukarno declared the independence of the Republic of Indonesia in front of a crowd of 500 people.

Artinya

Sukarno adalah Presiden Indonesia pertama yang bertugas sejak tahun 1945 sampai 1967. Dia adalah pemimpin gerakan nasionalis Indonesia yang menonjol selama masa penjajahan Belanda, dan menghabiskan lebih dari satu dekade di bawah penahanan Belanda sampai dibebaskan oleh pasukan Jepang yang menyerang. Setelah Jepang menyerah, Sukarno dan Mohammad Hatta mendeklarasikan kemerdekaan Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945, dan Sukarno ditunjuk sebagai presiden pertama.

Pengejaan Soekarno, berdasarkan ortografi Belanda, masih sering digunakan, terutama karena ia menandatangani namanya dalam ejaan lama. Sukarno sendiri bersikeras “u”, bukan “oe”, namun mengatakan bahwa ia telah diberitahu di sekolah untuk menggunakan gaya Belanda. Dia mengatakan bahwa terlalu sulit untuk mengubah tanda tangannya, jadi masih menulisnya dengan “oe”.

Seokarno adalah anak dari seorang guru sekolah dasar di Jawa, seorang aristokrat bernama Raden Soekemi Sosrodihardjo, dan istrinya dari Bali bernama Ida Ayu Nyoman Rai. Setelah lulus dari sekolah dasar negeri pada tahun 1912, dia dikirim ke Sekolah Europeesche Lagere (sebuah sekolah dasar Belanda) di Mojokerto. Selanjutnya, pada tahun 1916, Sukarno pergi ke Hogere Burgerschool (sekolah menengah tingkat Belanda di Surabaya), di mana dia bertemu dengan Tjokroaminoto, seorang nasionalis dan pendiri Sarekat Islam. Pada tahun 1920, Sukarno menikahi putri Tjokroaminoto, Siti Oetari. Pada tahun 1921, ia mulai belajar teknik sipil (dengan berfokus pada arsitektur) di Technische Hoogeschool te Bandoeng (Institut Teknologi Bandoeng), di mana ia memperoleh gelar Ingenieur (disingkat “Ir.”, Seorang insinyur tipe Belanda) pada tahun 1926 .

Visi Soekarno untuk konstitusi UUD 1945 terdiri dari Pancasila (lima prinsip). Filosofi politik Sukarno terutama merupakan perpaduan antara unsur-unsur Marxisme, nasionalisme dan Islam. Hal ini tercermin dalam proposisi versinya tentang Pancasila yang dia ajukan ke BPUPKI (Inspektorat Upaya Persiapan Kemerdekaan Indonesia) dalam sebuah pidato pada tanggal 1 Juni 1945.

Pada pagi hari tanggal 17 Agustus 1945, Sukarno kembali ke rumahnya di Jalan Pegangsaan Timur No. 56, dimana dia bergabung dengan Mohammad Hatta. Sepanjang pagi, selebaran dadakan dicetak oleh PETA dan elemen pemuda menginformasikan populasi proklamasi yang akan datang. Akhirnya jam 10 pagi, Soekarno dan Hatta melangkah ke teras depan, tempat Sukarno mendeklarasikan kemerdekaan Republik Indonesia di depan kerumunan 500 orang.

3. Biografi Soekarno Dalam Bahasa Inggris

Sukarno, also spelled Soekarno (born June 6, 1901, Surabaja [now Surabaya], Java, Dutch East Indies—died June 21, 1970, Jakarta, Indonesia), leader of the Indonesian independence movement and Indonesia’s first president (1949–66), who suppressed the country’s original parliamentary system in favour of an authoritarian “Guided Democracy” and who attempted to balance the Communists against the army leaders. He was deposed in 1966 by the army under Suharto.

Sukarno was the only son of a poor Javanese schoolteacher, Raden Sukemi Sosrodihardjo, and his Balinese wife, Ida Njoman Rai. Originally named Kusnasosro, he was given a new and, it was hoped, more auspicious name, Sukarno, after a series of illnesses. Known to his childhood playmates as Djago (Cock, Champion) for his looks, spirits, and prowess, he was as an adult best known as Bung Karno (bung, “brother” or “comrade”), the revolutionary hero and architect of merdeka (“independence”).

Sukarno spent long periods of his childhood with his grandparents in the village of Tulungagung, where he was exposed to the animism and mysticism of serene rural Java. There he became a lifelong devotee of wayang, the puppet shadow plays based on the Hindu epics, as animated and narrated by a master puppeteer, who could hold an audience spellbound through an entire night. As a youth of 15, Sukarno was sent to secondary school in Surabaya and to lodgings in the home of Omar Said Tjokroaminoto, a prominent civic and religious figure. Tjokroaminoto treated him as a cherished foster son and protégé, financed his further education, and eventually married him off at age 20 to his own 16-year-old daughter, Siti Utari.

As a student, Sukarno chose to excel mainly in languages. He mastered Javanese, Sundanese, Balinese, and modern Indonesian, which, in fact, he did much to create. He also acquired Arabic, which, as a Muslim, he learned by study of the Qurʾān; Dutch, the language of his education; German; French; English; and, later, Japanese. In Tjokroaminoto’s home he came to meet emerging leaders who spanned the rapidly widening national political spectrum, from feudal princelings to fugitive communist conspirators. The eclectic syncretism of the Tjokroaminoto ménage, like the romance and mysticism of wayang, imprinted itself indelibly upon Sukarno’s mind and personality. He was later to treat nation-making as a heroic theatrical, in which the clash of irreconcilable men and ideas could be harmonized through sheer poetic magic—his own.

Endowed with commanding presence, radiant personality, mellifluous voice, vivid style, a photographic memory, and supreme self-confidence, Sukarno was obviously destined for greatness. In 1927 in Bandung, where he had just acquired a degree in civil engineering, he found his true calling in oratory and politics. He soon revealed himself as a man of charisma and destiny.

For his challenge to colonialism Sukarno spent two years in a Dutch jail (1929–31) in Bandung and more than eight years in exile (1933–42) on Flores and Sumatra. When the Japanese invaded the Indies in March 1942, he welcomed them as personal and national liberators. During World War II the Japanese made Sukarno their chief adviser and propagandist and their recruiter for labourers, soldiers, and prostitutes. Sukarno pressured the Japanese to grant Indonesia its independence and, on June 1, 1945, made the most famous of many celebrated speeches. In it he defined the Pantjasila (Pancasila), or Five Principles (nationalism, internationalism, democracy, social prosperity, and belief in God), still the sacrosanct state doctrine. When the collapse of Japan became imminent, Sukarno at first wavered. Then, after being kidnapped, intimidated, and persuaded by activist youths, he declared Indonesia’s independence (August 17, 1945). As president of the shaky new republic, he fueled a successful defiance of the Dutch, who, after two abortive “police actions” to regain control, formally transferred sovereignty on December 27, 1949.

Sukarno died at the age of 69 of a chronic kidney ailment and numerous complications. Suharto decreed a quick and quiet funeral. Nevertheless, at least 500,000 persons, including virtually all of Jakarta’s important personages, turned out to pay their last ambivalent respects. The next day another 200,000 assembled in Blitar, near Surabaya, for the official service followed by burial in a simple grave alongside that of his mother. The cult and ideology of Sukarnoism were proscribed until the late 1970s, when the government undertook a rehabilitation of Sukarno’s name. His autobiography, Sukarno, was published in 1965.

Terjemahannya

Sukarno, juga dieja Soekarno (lahir 6 Juni 1901, Surabaja [sekarang Surabaya], Jawa, Hindia Belanda – meninggal pada 21 Juni 1970, Jakarta, Indonesia), pemimpin gerakan kemerdekaan Indonesia dan presiden pertama Indonesia (1949-66) , Yang menekan sistem parlementer asli negara tersebut untuk mendukung “Demokrasi Terpimpin” otoriter dan yang berusaha menyeimbangkan Komunis melawan para pemimpin tentara. Dia digulingkan pada tahun 1966 oleh tentara di bawah Soeharto.

Sukarno adalah anak tunggal seorang guru sekolah Jawa yang miskin, Raden Sukemi Sosrodihardjo, dan istrinya dari Bali, Ida Njoman Rai. Awalnya bernama Kusnasosro, ia diberi yang baru dan, semoga, nama yang lebih menguntungkan, Sukarno, setelah serangkaian penyakit. Dikenal sebagai teman bermain masa kecilnya sebagai Djago (Cock, Champion) karena penampilan, semangat, dan kehebatannya, dia adalah orang dewasa yang paling dikenal dengan sebutan Bung Karno (bung, “saudara” atau “kawan”), pahlawan revolusioner dan arsitek merdeka. (“kemerdekaan”).

Sukarno menghabiskan masa kecilnya yang panjang dengan kakek dan neneknya di desa Tulungagung, di mana ia terpapar dengan animisme dan mistisisme di pedesaan Jawa yang tenang. Di sana ia menjadi pemuja wayang seumur hidup, wayang kulit bermain berdasarkan epik Hindu, yang dinyanyikan dan dinyanyikan oleh dalang master, yang bisa menahan penonton terpesona sepanjang malam. Sebagai pemuda berusia 15 tahun, Sukarno dikirim ke sekolah menengah di Surabaya dan ke penginapan di rumah Omar Said Tjokroaminoto, tokoh masyarakat dan agama terkemuka. Tjokroaminoto memperlakukannya sebagai anak angkat dan anak didik yang disayangi, membiayai pendidikan lanjutannya, dan akhirnya menikahkannya pada usia 20 tahun kepada anak perempuannya sendiri yang berusia 16 tahun, Siti Utari.

Sebagai seorang siswa, Sukarno memilih untuk berprestasi terutama dalam bahasa. Ia menguasai bahasa Jawa, Sunda, Bali, dan Indonesia modern, yang sebenarnya banyak diciptakannya. Dia juga mendapatkan bahasa Arab, yang, sebagai seorang Muslim, dia belajar dengan mempelajari Al-Qur’an; Bahasa Belanda, bahasa pendidikannya; Jerman; Perancis; Inggris; Dan kemudian, Jepang. Di rumah Tjokroaminoto, dia datang menemui pemimpin baru yang membentang spektrum politik nasional yang meluas, mulai dari pangeran feodal hingga konspirator komunis buronan. Sinkretisme eklektik Tjokroaminoto ménage, seperti romantisme dan mistisisme wayang, tercetak sendiri tak terhapuskan atas pikiran dan kepribadian Sukarno. Dia kemudian memperlakukan bangsa sebagai teater heroik, di mana benturan pria dan gagasan tak terdamaikan dapat diselaraskan melalui sihir puitis belaka – miliknya sendiri.

Diberkahi dengan kehadiran yang memerintah, kepribadian yang bercahaya, suara meleleh, gaya hidup, ingatan fotografi, dan kepercayaan diri tertinggi, Sukarno jelas ditakdirkan untuk kebesaran. Pada tahun 1927 di Bandung, di mana ia baru saja memperoleh gelar sarjana teknik sipil, ia menemukan panggilan sebenarnya dalam pidato dan politik. Dia segera mengungkapkan dirinya sebagai orang karisma dan takdir.

Atas tantangannya terhadap kolonialisme, Sukarno menghabiskan dua tahun di penjara Belanda (1929-31) di Bandung dan lebih dari delapan tahun berada di pengasingan (1933-42) di Flores dan Sumatra. Ketika Jepang menyerang Hindia pada bulan Maret 1942, dia menyambut mereka sebagai pembebas pribadi dan nasional. Selama Perang Dunia II, orang Jepang menjadikan Sukarno sebagai penasihat utama dan propagandis dan perekrut mereka untuk buruh, tentara, dan pelacur. Sukarno menekan Jepang untuk memberi kemerdekaan Indonesia dan, pada tanggal 1 Juni 1945, membuat pidato terkenal yang terkenal. Di dalamnya ia mendefinisikan Pantjasila (Pancasila), atau Lima Prinsip (nasionalisme, internasionalisme, demokrasi, kemakmuran sosial, dan kepercayaan kepada Tuhan), masih merupakan doktrin negara yang sakral. Ketika jatuhnya Jepang menjadi semakin dekat, Sukarno pada awalnya goyah. Kemudian, setelah diculik, diintimidasi, dan dibujuk oleh pemuda aktivis, dia menyatakan kemerdekaan Indonesia (17 Agustus 1945). Sebagai presiden republik baru yang goyah, dia memicu pembangkangan Belanda yang berhasil, yang, setelah dua “tindakan polisi” gagal untuk mendapatkan kembali kontrol, secara resmi memindahkan kedaulatan pada tanggal 27 Desember 1949.

Sukarno meninggal pada usia 69 tahun karena penyakit ginjal kronis dan berbagai komplikasi. Soeharto memutuskan pemakaman yang cepat dan tenang. Meskipun demikian, setidaknya 500.000 orang, termasuk hampir semua tokoh penting di Jakarta, ternyata membayar penghormatan terakhir mereka. Keesokan harinya 200.000 lainnya berkumpul di Blitar, dekat Surabaya, untuk layanan resmi dilanjutkan dengan pemakaman di sebuah kuburan sederhana di samping ibunya. Kultus dan ideologi Sukarnoisme dilarang sampai akhir 1970-an, ketika pemerintah melakukan rehabilitasi nama Sukarno. Otobiografinya, Sukarno, diterbitkan pada tahun 1965.
Google Translate for Business:Translator ToolkitWebsite Translator

Biografi Soekarno Dalam Bahasa Inggris

Itu tadi beberapa contoh biografi soekarno dalam bahasa inggris yang bisa teman pelajari. Baca juga Contoh Hortarory Exposition Dan Artinya. Sekian, semoga biografi soekarno dalam bahasa inggris di atas membantu.

Comments

comments

Related For 3 Contoh Biografi Soekarno Dalam Bahasa Inggris