Contoh Bahasa Inggris

Contoh Bahasa Inggris

Menu

3 Biografi RA Kartini Dalam Bahasa Inggris Dan Artinya

July 26, 2017 | Text

Bingung mencari biografi ra kartini dalam bahasa inggris? Setelah sebelumnya CoBI memberikan 3 Contoh Biografi Soekarno Dalam Bahasa Inggris , Sekarang ada biografi ra kartini dalam bahasa inggris yang bisa teman semua baca dan pelajari.

Biografi RA Kartini Dalam Bahasa Inggris Terbaik

Membaca biografi ra kartini dalam bahasa inggris tentunya akan membantu teman belajar bahasa inggris dan juga mengingatkan kita akan jasa Raden Ajeng Kartini. Tak perlu berlama-lama, berikut adalah biografi ra kartini dalam bahasa inggris untuk teman semua dari contohbahasainggris.com.

Biografi RA Kartini Dalam Bahasa Inggris

1. Biografi RA Kartini Dalam Bahasa Inggris Panjang

Raden Adjeng Kartini was born to a noble family on April 21, 1879, in the village of Mayong, Java, Indonesia. Kartini’s mother, Ngasirah, was the daughter of a religious scholar. Her father, Sosroningrat, was a Javanese aristocrat working for the Dutch colonial government. This afforded Kartini the opportunity to go to a Dutch school, at the age of 6. The school opened her eyes to Western ideals. During this time, Kartini also took sewing lessons from another regent’s wife, Mrs. Marie Ovink-Soer. Ovink-Soer imparted her feminist views to Kartini, and was therefore instrumental in planting the seed for Kartini’s later activism.

When Kartini reached adolescence, Javanese tradition dictated that she leave her Dutch school for the sheltered existence deemed appropriate to a young female noble.

Struggling to adapt to isolation, Kartini wrote letters to Ovink-Soer and her Dutch schoolmates, protesting the gender inequality of Javanese traditions such as forced marriages at a young age, which denied women the freedom to pursue an education.

Ironically, in her eagerness to escape her isolation, Kartini had to to accept a marriage proposal arranged by her father. On November 8, 1903, she wed the regent of Rembang, Raden Adipati Joyodiningrat. Kartini had recently been offered a scholarship to study abroad, and the marriage dashed her hopes of accepting it. According to Javanese tradition, at 24 she was too old to expect to marry well.

Intent on spreading her feminist message, with her new husband’s approval, Kartini soon set about planning to start her own school for Javanese girls. With help from the Dutch government, in 1903 she opened the first Indonesian primary school for native girls that did not discriminate on the basis of their social status. The school was set up inside her father’s home, and taught girls a progressive, Western-based curriculum. To Kartini, the ideal education for a young woman encouraged empowerment and enlightenment. She also promoted their lifelong pursuit of education. To that end, Kartini regularly corresponded with feminist Stella Zeehandelaar as well as numerous Dutch officials with the authority to further the cause of Javanese women’s emancipation from oppressive laws and traditions. Her letters also expressed her Javanese nationalist sentiments.

On September 17, 1904, at the age of 25, Kartini died in the regency of Rembang, Java, of complications from giving birth to her first child. Seven years after her death, one of her correspondents, Jacques H. Abendanon, published a collection of Kartini’s letters, entitled “From Darkness to Light: Thoughts About and on Behalf of the Javanese People.” In Indonesia, Kartini Day is still celebrated annually on Kartini’s birthday.

Artinya

Raden Adjeng Kartini lahir dari keluarga bangsawan pada tanggal 21 April 1879, di desa Mayong, Jawa, Indonesia. Ibu Kartini, Ngasirah, adalah putri seorang ulama. Ayahnya, Sosroningrat, adalah seorang bangsawan Jawa yang bekerja untuk pemerintah kolonial Belanda. Ini memberi kesempatan kepada Kartini untuk pergi ke sekolah Belanda, pada usia 6 tahun. Sekolah tersebut membuka matanya terhadap cita-cita Barat. Selama masa ini, Kartini juga mengambil pelajaran menjahit dari istri bupati lain, Mrs. Marie Ovink-Soer. Ovink-Soer menyampaikan pandangan feminisnya kepada Kartini, dan karena itu berperan penting dalam menanam benih untuk aktivisme Kartini nanti.

Ketika Kartini sampai pada masa remaja, tradisi Jawa mendiktekan bahwa dia meninggalkan sekolahnya di Belanda karena keberadaan yang terlindungi yang dianggap sesuai dengan seorang wanita wanita muda.

Berjuang untuk beradaptasi dengan isolasi, Kartini menulis surat kepada Ovink-Soer dan teman sekolahnya di Belanda, memprotes ketidaksetaraan gender tradisi Jawa seperti perkawinan paksa di usia muda, yang menolak kebebasan wanita untuk melanjutkan pendidikan.

Ironisnya, dalam keinginannya untuk melepaskan diri dari keterasingannya, Kartini harus menerima sebuah proposal pernikahan yang diatur oleh ayahnya. Pada tanggal 8 November 1903, dia menikahi Bupati Rembang, Raden Adipati Joyodiningrat. Kartini baru saja ditawari beasiswa untuk belajar di luar negeri, dan pernikahan tersebut mengejutkan harapannya untuk menerimanya. Menurut tradisi Jawa, pada umur 24 ia sudah terlalu tua untuk bisa menikah dengan baik.

Intinya menyebarkan pesan feminisnya, dengan persetujuan suaminya yang baru, Kartini segera mulai merencanakan untuk memulai sekolahnya sendiri untuk anak perempuan Jawa. Dengan bantuan dari pemerintah Belanda, pada tahun 1903 ia membuka sekolah dasar pertama di Indonesia untuk anak perempuan asli yang tidak melakukan diskriminasi atas dasar status sosial mereka. Sekolah itu didirikan di dalam rumah ayahnya, dan mengajarkan kurikulum progresif berbasis Barat bagi anak-anak perempuan. Kepada Kartini, pendidikan ideal bagi seorang wanita muda mendorong pemberdayaan dan pencerahan. Dia juga mempromosikan pencarian pendidikan seumur hidup mereka. Untuk itu, Kartini secara teratur berhubungan dengan feminis Stella Zeehandelaar serta sejumlah pejabat Belanda yang memiliki wewenang untuk memajukan penyebab emansipasi wanita Jawa dari hukum dan tradisi yang menindas. Surat-suratnya juga mengungkapkan sentimen nasionalis Jawa-nya.

Pada tanggal 17 September 1904, pada usia 25 tahun, Kartini meninggal di Kabupaten Rembang, Jawa, dari komplikasi melahirkan anak pertamanya. Tujuh tahun setelah kematiannya, salah seorang korespondennya, Jacques H. Abendanon, menerbitkan sebuah koleksi surat-surat Kartini yang berjudul “Dari Kegelapan ke Terang: Pikiran Tentang dan pada Orang-orang Jawa”. Di Indonesia, Hari Kartini masih dirayakan setiap tahun pada hari ulang tahun Kartini.

2. Biografi RA Kartini Dalam Bahasa Inggris Pendek Singkat

Raden Adjeng Kartini is a Javanese noblewoman and is best known as a pioneer in the area of women’s rights for native Indonesians.

Raden Adjeng Kartini was born on April 21, 1879, in Mayong, Indonesia. In 1903, she opened the first Indonesian primary school for native girls that did not discriminate based on social standing. She corresponded with Dutch colonial officials to further the cause of Javanese women’s emancipation up until her death, on September 17, 1904, in Rembang Regency, Java. In 1911, her letters were published.

On November 8, 1903, she wed the regent of Rembang, Raden Adipati Joyodiningrat. With help from the Dutch government and her husband, in 1903 she opened the first Indonesian primary school for native girls that did not discriminate on the basis of their social status.

On September 17, 1904, at the age of 25, Kartini died in the regency of Rembang, Java, of complications from giving birth to her first child. Seven years after her death, one of her correspondents, Jacques H. Abendanon, published a collection of Kartini’s letters, entitled “From Darkness to Light: Thoughts About and on Behalf of the Javanese People.” In Indonesia, Kartini Day is still celebrated annually on Kartini’s birthday.

Terjemahannya

Raden Adjeng Kartini adalah seorang bangsawan Jawa dan dikenal sebagai pelopor dalam bidang hak-hak perempuan untuk penduduk asli Indonesia.

Raden Adjeng Kartini lahir pada tanggal 21 April 1879 di Mayong, Indonesia. Pada tahun 1903, ia membuka sekolah dasar pertama di Indonesia untuk anak perempuan asli yang tidak melakukan diskriminasi berdasarkan status sosial. Dia berkorespondensi dengan pejabat kolonial Belanda untuk memajukan penyebab emansipasi wanita Jawa sampai kematiannya, pada tanggal 17 September 1904, di Kabupaten Rembang, Jawa. Pada tahun 1911, surat-suratnya diterbitkan.

Pada tanggal 8 November 1903, dia menikahi Bupati Rembang, Raden Adipati Joyodiningrat. Dengan bantuan dari pemerintah Belanda dan suaminya, pada tahun 1903 ia membuka sekolah dasar pertama di Indonesia untuk anak perempuan asli yang tidak melakukan diskriminasi atas dasar status sosial mereka.

Pada tanggal 17 September 1904, pada usia 25 tahun, Kartini meninggal di Kabupaten Rembang, Jawa, dari komplikasi melahirkan anak pertamanya. Tujuh tahun setelah kematiannya, salah seorang korespondennya, Jacques H. Abendanon, menerbitkan sebuah koleksi surat-surat Kartini yang berjudul “Dari Kegelapan ke Terang: Pikiran Tentang dan pada Orang-orang Jawa”. Di Indonesia, Hari Kartini masih dirayakan setiap tahun pada hari ulang tahun Kartini.

3. Biografi RA Kartini Dalam Bahasa Inggris

Raden Ajeng Kartini was a leading feminist of women emancipation in Indonesia who was born on 21 April 1879 in Jepara, Central Java. Her father, Raden Mas Sosroningrat, was the mayor of Jepara. During that period, women received little or no education at all. Women would end up giving birth and stay in the kitchen all the time. Kartini rebelled in her quiet way against this injustice and inspired the women of her nation to achieve more than what the society allowed them.

Kartini went to a Dutch school (Europese Lagere School) where she learnt to speak Dutch fluently, which was unusual for Javanese women at the time. But when she was 12 years old, her father prohibited her from continuing her studies because of the tradition. A noble girl was not allowed to have a higher education.

Kartini’s father gave her certain privileges such as embroidery lessons and occasional appearances in public for special events. She learned by herself at home and spent her times reading books. She was very concerned about women’s education in Indonesia. From the books, newspapers, and European magazines that she read, she was very interested in European women’s way of thinking. She determined to enhance the education of Indonesian women. Kartini then established a school especially for women where she taught how to read and write as well as other important skills.

Kartini sometimes discussed the issues together with a Dutch couple, the Ovinks. Kartini had a book to read from Mrs. Ovink and started to correspondence with pen friends in the Netherlands.

On November 8, 1903, she wed the regent of Rembang, Raden Adipati Joyodiningrat. Kartini gave birth to her only son, RM Soesalit, on 13 September 1904. Unfortunately, Kartini passed away several days later on 17 September 1904 at the age of 25. She was buried in Bulu Village, Rembang.

Following Kartini’s death, Mr. J.H Abendanon published a book called “Door Duisternis Tot Licht” (Through Darkness to Light) which consists of the collection of Kartini’s letters to her friends in Netherlands.

To honor Kartini’s effort, a school for women was built by Kartini Foundation in Semarang in 1912, which was followed by a number of schools in Surabaya, Yogyakarta, Malang, Madiun, Cirebon, and others.

In 1964, President Soekarno stated Kartini as Indonesian Heroine and set Kartini’s birthday, 21 April, as the Indonesia National Day (Kartini’s Day).

Artinya

Raden Ajeng Kartini adalah seorang feminis terkemuka emansipasi perempuan di Indonesia yang lahir pada tanggal 21 April 1879 di Jepara, Jawa Tengah. Ayahnya, Raden Mas Sosroningrat, adalah walikota Jepara. Selama periode itu, wanita sama sekali tidak mendapatkan pendidikan sedikit atau sama sekali. Wanita akan akhirnya melahirkan dan tinggal di dapur sepanjang waktu. Kartini memberontak dalam sikapnya yang tenang melawan ketidakadilan ini dan mengilhami perempuan bangsanya untuk mencapainya lebih dari yang diizinkan masyarakat.

Kartini pergi ke sekolah Belanda (Europese Lagere School) di mana dia belajar bahasa Belanda dengan lancar, yang tidak biasa bagi wanita Jawa saat itu. Tapi saat berusia 12 tahun, ayahnya melarangnya melanjutkan studinya karena tradisi. Seorang gadis luhur tidak diijinkan untuk memiliki pendidikan tinggi.

Ayah Kartini memberinya hak istimewa tertentu seperti pelajaran bordir dan penampilan sesekali di depan umum untuk acara spesial. Dia belajar sendiri di rumah dan menghabiskan waktunya untuk membaca buku. Dia sangat memperhatikan pendidikan perempuan di Indonesia. Dari buku-buku, surat kabar, dan majalah Eropa yang dia baca, dia sangat tertarik pada cara berpikir wanita Eropa. Dia bertekad untuk meningkatkan pendidikan perempuan Indonesia. Kartini kemudian mendirikan sebuah sekolah terutama untuk wanita dimana dia mengajar cara membaca dan menulis serta keterampilan penting lainnya.

Kartini terkadang membahas masalah ini bersama pasangan Belanda, Ovinks. Kartini memiliki sebuah buku untuk dibaca dari Mrs. Ovink dan mulai berkorespondensi dengan teman-teman pena di Belanda.

Pada tanggal 8 November 1903, dia menikahi Bupati Rembang, Raden Adipati Joyodiningrat. Kartini melahirkan anak laki-lakinya yang tunggal, RM Soesalit, pada tanggal 13 September 1904. Sayangnya, Kartini meninggal beberapa hari kemudian pada tanggal 17 September 1904 pada usia 25. Dia dimakamkan di Desa Bulu, Rembang.

Setelah kematian Kartini, Mr. J.H Abendanon menerbitkan sebuah buku berjudul “Door Duisternis Tot Licht” (terdiri dari koleksi surat-surat Kartini kepada teman-temannya di Belanda.

Untuk menghormati usaha Kartini, sebuah sekolah untuk wanita dibangun oleh Yayasan Kartini di Semarang pada tahun 1912, yang diikuti oleh sejumlah sekolah di Surabaya, Yogyakarta, Malang, Madiun, Cirebon, dan lain-lain.

Pada tahun 1964, Presiden Soekarno menyatakan Kartini sebagai Heroine Indonesia dan membuat ulang tahun Kartini, 21 April, sebagai Hari Nasional Indonesia (Hari Kartini).

Biografi RA Kartini Dalam Bahasa Inggris

Biografi RA Kartini Dalam Bahasa Inggris

Biografi RA Kartini Dalam Bahasa Inggris Untuk SMA

Membaca biografi ra kartini dalam bahasa inggris dari CoBI, semoga membantu pelajaran bahasa inggris teman semua. Baca juga 5 Surat Lamaran Kerja Bahasa Inggris Dan Artinya. Sekian, semoga biografi ra kartini dalam bahasa inggris di atas bermanfaat.

Comments

comments

Related For 3 Biografi RA Kartini Dalam Bahasa Inggris Dan Artinya